Jumat, 18 Maret 2016

Kisah Semut dan Cicak Jadi Cerminan Diri Kita Ada Di Pihak Mana




SYAM STORY - Di zaman "edan" seperti sekarang di mana kebenaran sengaja disembunyikan dan kejujuran tak lagi dihargai. Tapi di sisi lain ketidakbenaran begitu diagung-agungkan dan pelakunya juga dipuja-puja bagai pahlawan pembela kebenaran, padahal hakekatnya hanya melakukan rekayasa pembenaran demi pencitraan. Maka cerminan sikap dari kisah SEMUT dan CICAK pada peristiwa Nabi Ibrahim dibakar hidup-hidup bisa menjadi pelajaran berharga untuk menentukan diri kepada siapa kita berpihak.

Dikisahkan ketika Nabi Ibrahim as dilempar hidup-hidup ke kobaran api yang disiapkan oleh Namrud, ada dua ekor binatang yang turut berpihak dan berkontribusi baik terhadap Nabi Ibrahim as maupun kepada Namrud. Kedua binatang tersebut adalah SEMUT dan CICAK.

Singkat cerita, SEMUT tersebut berlari-lari dengan susah payah berusaha memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim as dengan membawa butiran air di ujung mulutnya. Perilaku SEMUT tersebut membuat semua binatang heran dan bertanya-tanya, sehingga seekor burung bertanya.

Burung : "Wahai SEMUT, kamu mau apa di sekitar kobaran api itu?"

Semut : "Aku mau memadamkan api agar Nabi Ibrahim as tidak terbakar!"

Burung : "Tidak mungkin setetes air yang ada di mulutmu mampu memadamkan kobaran api yang sangat besar itu."

Semut : "Memang air ini tidak akan bisa memadamkan api itu, tapi ini kulakukan paling tidak semua akan melihat bahwa aku di pihak yang mana."

Dari peristiwa itu, sang SEMUT mengajarkan hikmah kepada manusia setidaknya ada 3 hal, yaitu: 
  1. Berani menunjukkan identitas diri dalam sebuah perjuangan, tidak bersikap munafik di mana perkataan tidak sesuai perbuatan; 
  2. Komitmen membela yang benar, bukan membela yang bayar di mana kebenaran disembunyikan dan kejujuran tak dihargai; dan 
  3. Berani berkorban demi tegaknya kebenaran, sebaliknya ketidakbenaran yang terjadi harus segera dikritik karena pembiaran terhadap ketidakbenaran tersebut lama-kelamaan seakan menjadi sebuah kebenaran. 


Di sisi lain, CICAK ikut meniup api yang dibuat oleh Namrud agar semakin membesar. Memang tiupan CICAK tidak akan bisa membesarkan kobaran api itu, tapi dengan apa yang dilakukan CICAK itu semua akan tahu bahwa CICAK ada di pihak yang mana.

Akibat keberpihakannya ini, CICAK dianjurkan untuk dibunuh.

"Dari Sa'ad ibn Abi Waqqash bahwasannya Nabi Muhammad saw memerintahkan untuk membunuh cicak. Dan beliau menamakannya (cicak ini) hewan kecil yang fasik" (HR. Muslim)

"Dahulu ia meniup api yang membakar Nabi Ibrahim as." (HR. Bukhari dari Ummu Syarik)


Pertanyaannya, di manakah keberpihakan kita saat ini? 
Di golongan SEMUT yang membela keBENARan atau di golongan CICAK yang membela keFASIKan?




Related Posts

Kisah Semut dan Cicak Jadi Cerminan Diri Kita Ada Di Pihak Mana
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

17 comments

Tulis comments

Silakan tinggalkan komentar yang santun